Wednesday, November 28, 2012

BIAYA BERBASIS AKTIVITAS (ACTIVITY BASED COSTING)



oleh: Lisa Umami
Ekonomi Islam 2011, Universitas Yudharta Pasuruan

Biaya berbasis aktivitas atau activity based costing (ABC) merupakan sistem penentuan biaya yang membebankan biaya ke objek biaya seperti produk atau jasa berdasarkan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Aktivitas disini dapat berupa kejadian, tugas, atau unit kerja yang memiliki tujuan tertentu. Jadi, dengan sistem ABC biaya akan dihitung pada masing-masing aktivitas dan dibebankan ke objek biaya berdasarkan konsumsi dari aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau jasa.
Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya tidak langsung tersebut disebut drivers. Sebuah driver sumber daya (resource driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya sumber daya ke aktivitas-aktivitas yang berbeda. Driver aktivitas (activity driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya akhir.
Tahapan Dalam Merancang ABC
Tiga tahapan dalam merancang ABC adalah 1)mengidentifikasi objek biaya yang dipilih, 2)mengidentifikasi biaya dan aktivitas, 3)membebankan biaya tidak langsung ke aktivitas, 4)membebankan biaya aktivitas ke objek biaya, 5) menghitung jumlah biaya untuk objek biaya baik biaya langsung maupun tidak langsung.
2.1 Mengidentifikasi Objek Biaya yang Dipilih
Tahap pertama dalam merancang ABC adalah mengidentifikasi objek biaya. Objek biaya disini bisa berupa produk atau jasa, pelanggan, dan lain sebagainya.
2.2 Mengidentifikasi Biaya dan Aktivitas
Selanjutnya perlu untuk mengidentifikasi biaya dan aktivitas. Proses identifikasi biaya terdiri dari identifikasi biaya langsung dan tidak langsung yang terkait dengen objek biaya yang dipilih. Biaya-biaya tersebut dapat diperoleh dari rekening buku besar atau bagan rekening yang perusahaan miliki.
Dalam sistem ABC biasanya memiliki empat kategori aktivitas, yaitu:
a. Aktivitas berlevel unit atau volume yaitu aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi setiap unit produk. Contohnya, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, jumlah unit yang dihasilkan, dan lain sebagainya.
b. Aktivitas berlevel batch atau kelompok yaitu aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch atau kelompok produk yang dihasilkan atau diproduksi atau dijual. Contohnya, jam setup, pesanan produksi, permintaan material, dan lain sebagainya.
c. Aktivitas untuk mendukung produk atau jasa yaitu aktivitas yang dilakukan untuk membantu produksi produk atau jasa. Contohnya, perubahan desain produk, jam desain produk, dan lain sebagainya.
d. Aktivitas untuk mendukung fasilitas yaitu aktivitas yang dilakukan untuk mendukung organisasi secara keseluruhan. Contohnya, biaya administrasi umum (termasuk sewa dan keamanan gedung), pajak properti, manajemen pabrik, dan lain sebagainya.
2.3 Membebankan Biaya Tidak Langsung ke Aktivitas
Setelah dilakukan identifikasi biaya dan analisis aktivitas, biaya-biaya tidak langsung dialokasikan ke pusat biaya aktivitas dengan menggunakan driver sumber daya (resources driver). Sehingga biaya-biaya tidak langsung tersebut akan dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas.
2.4 Membebankan Biaya Aktivitas ke Objek Biaya
Setelah biaya-biaya tidak langsung dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas, selanjutnya pusat biaya aktivitas tersebut dibebankan ke objek biaya yang dipilih menggunakan driver aktivitas (activity driver).
2.5 Menghitung Jumlah Biaya dari Objek Biaya dengan Menambahkan Biaya Langsung dan Tidak Langsung
Setelah membebankan biaya tidak langsung ke objek biaya, selanjutnya ditambahkan dengan biaya langsung untuk objek biaya tersebut sehingga diperoleh jumlah biaya untuk objek biaya yang dihitung.
http://andrianaakuntan.blogspot.com/2010/03/biaya-berbasis-aktivitas-activity-based.html

Potongan Harga (Trade Discount)

Maulana Saikhudin
EKI 2011


POTONGAN PENJUALAN (TRADE DISCOUNT)
Sebagai pelaksanaan dari politik dagang perusahaan memberikan potongan dengan syarat-syarat tertentu sehingga penjualan dan piutang dagang akan berkurang. Selain itu penjualan juga akan berkurang apabila barang yang telah dijual dikembalikan oleh pembeli karena suatu hal (retur).
Potongan harga merupakan salah satu kebijakan perusahaan dalam rangka menyesuaikan harga. Penyesuaian harga yang dilakukan oleh perusahaan akan berdampak pada omzet penjualan terhadap produk yang ditawarkan kepada konsumen. Bentuk penyesuaian harga yang diterapkan oleh Departemen Fruit and Vegetable adalah kebijakan potongan harga.
Berdasarkan hasil pengamatan dari Praktik Kerja Lapangan menunjukkan bahwa (1) Kebijakan potongan harga yang diterapkan oleh Giant Hypermarket adalah Happy Hour dan Comcheck (Competitor Check List). Happy Hour merupakan bentuk kebijakan potongan harga yang dilakukan setiap hari dan setiap jam tertentu di saat konsumen mulai ramai. Potongan harga yang diberikan adalah sebesar 50%. Comcheck merupakan suatu kebijakan di mana Departemen Fruit and Vegetable membandingkan harga jual yang ada di Giant dengan harga jual kompetitor dan melakukan diskon up to 50% off. (2) Terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam penetapan harga pada Departemen Fruit and Vegetable pada Giant Hypermarket Gajayana Malang. Faktor pendukung antara lain, Giant bersedia mengganti selisih harga jual produknya dengan harga jual produk kompetitor jika produk kompetitor itu lebih murah, Giant merupakan perusahaan baru sehingga mendukung dalam penerapan kebijakan potongan harga, dan penekanan biaya operasional dengan menggunakan distribusi langsung sehingga perusahaan bisa menawarkan diskon hingga 50%. Faktor penghambat antara lain, update harga yang harus diikuti terus perkembangannya oleh Giant, koordinasi dalam perubahan harga, dan produk diskon yang ditawarkan adalah produk yang tidak mempunyai kualitas sebagus produk yang tidak didiskon. (3) Kebijakan potongan harga yang paling efektif dilaksanakan pada Departemen Fruit And Vegetable Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah penyortiran produk diskon yang dilakukan secara ketat dan istilah yang digunakan sangat atraktif. Kebijakan tersebut terbukti sangat efektif dalam meningkatkan omzet penjualan.
POTONGAN RABAT (QUANTITY DISCOUNT)
Potongan rabat adalah potongan harga yang diberikan atas pembelian dalam jumlah besar. Caranya tergantung pada kebijakan akuntansi yang ditetapkan manajemen perusahaan. Dalam neraca Piutang dicatat sesuai dengan harga faktur setelah dikurangi rabat sehingga tidak perlu disediakan rekening potongan penjualan, atau total faktur sebelum sebelum dikurangi rabat dengan menyediakan rekening potongan penjualan. Sebaiknya digunakan cara yang pertama karena di dalam neraca tidak perlu ditampilkan potongan penjualan, namun masalah diperlukan atau tidak tergantung penuh pada manajemen perusahaan.
POTONGAN TUNAI (CASH DISCOUNT)
Potongan tunai adalah potongan harga yang diberikan atas pembayaran tunai sebelum tanggal yang ditentukan dan bila pembayaran tidak dilakukan sebelum tanggal tersebut maka potongan menjadi batal. Piutang dicatat sesuai dengan harga jual bila pembeli melunasi hutangnya sebelum tanggal ditentukan maka diberikan potongan penjualan maka Jurnalnya sbb:
Kas
98,000.00

Potongan penjualan
2,000.00

Piutang

100,000.00
Piutang dagang dicatat melalui prosedur yang terdapat pada aplikasi penjualan yang menerbitkan bukti transaksi penjualan yaitu Faktur penjualan dan faktur Pajak.
Selanjutnya Bagian buku besar membukukan transaksi tersebut pada buku besar memalui jurnal penjualan, berdasarkan faktur.
KERUGIAN PIUTANG
Penjualan kredit memberikan kesempatan kepada pembeli untuk menunda pembayaran sehingga mau membeli dengan jumlah yang relatif besar. Namun penjualan kredit mempunyai resiko yaitu karena banyak debitur yang tidak melunasi bahkan mungkin pada situasi tertentu tidak mampu melunasi utang sebagaimana mestinya. Kejadian tersebut jelas menimbulkan kerugian kepada penjual dan hal itu harus dicantumkan dalam laporan rugi laba dengan nama kerugian piutang.
Ada dua cara untuk mencatat kerugian piutang yaitu metode penghapusan langsung dan metode cadangan kerugian piutang.
Metode penghapusan langsung
Piutang tak tertagi dicatat setelah perusahan mendapat keyakinan bahwa piutang tidak akan dapat ditagih. Kepastian untuk itu diperoleh setelah debitur dinyatakan pailit oleh instansi yang berwenang atau keterangan lainya.
Misalnya pada tanggal 10 Agustus 1998 PT. X dinyatakan pailit akibat akibat penjarahan besar-besaran yang terjadi sejak kerusuhan mei lalu. Perusahan X masih mempunyai utang kepada PT. Y sebesar Rp.10.000.000,00. Kejadian tersebut dicatat oleh PT. Y sebagai kerugian piutang sbb :
Kerugian piutang
10.000.000,00

Piutang dagang

10.000.000,00
Metode cadangan  kerugian piutang
Besarnya kerugian piutang sesungguhnya hanyalah merupakan taksiran yang didasarkan pada pengalaman. Bedasarkan taksiran tersebut disediakan suatu rekening penilaian “Cadangan kerugian piutang” yang bertujuan untuk mengubah nilai piutang sehingga nilai yang tercantum dalam rekening piutang tetap menunjukan nilai tunainya.
Kerugian piutang
10.000.000,00

Cadangan kerugian Piutang

10.000.000,00
Rekening Cadangan kerugian piutang adalah rekening yang bernilai kredit.



Biaya Overhead Pabrik



Oleh: Muhmmad Syarifuddin Jufri & Emiliya Mukmilah, EKI Universitas Yudharta Pasuruan

1.      Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead pabrik adalah biaya-biaya bahan tak langsung, buruh tak langsung dan biaya-biaya pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi/tujuan biaya akhir.
Pendapat ahli lainya menyatakan bahwa biaya overhead pabrik merupakan setiap biaya yang tidak secara langsung melekat pada suatu produk, yaitu semua biaya-biaya diluar biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead pabrik mencakup biaya produksi lainnya seperti pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin-mesin. Biaya pabrik seperti pemeliharaan, gudang bahan-bahan dan hal lain yang memberikan pelayanan-pelayanan kepada bagian produksi juga merupakan bagian dari biaya overhead pabrik. Biaya penjualan dan biaya distribusi, dan semua biaya administrasi juga diperhitungkan sebagai biaya overhead sepanjang biaya-biaya tersebut tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan unit produk (Pass, Lowes dan Davis, 1998 –118).
Berbagai macam biaya overhead pabrik harus dibebankan kepada semua pekerjaan yang terlaksana selama suatu periode. Oleh karena itu, untuk dapat membebankan biaya overhead pabrik secara merata kepada setiap produk digunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini (Mulyadi, 1992 –212) :
1.      Menyusun anggaran biaya over head pabrik.
2.      Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.
3.      Menghitung tarif biaya overhead pabrik.



2.      Biaya overhead pabrik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.      Biaya overhead pabrik variable.
Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang jumlah totalnya akan berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya overhead pabrik variabel adalah biaya bahan penolong.
2.      Biaya overhead pabrik tetap.
Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead pabrik yang jumlah totalnya (dalam kisaran tertentu) tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume kegiatan. Contoh biaya overhead pabrik tetap adalah pajak bumi dan bangunan, biaya penyusutan aktiva tetap, dan biaya sewa gedung pabrik.
3.      Biaya overhead pabrik campuran.
Biaya overhead pabrik campuran dapat dibedakan menjadi biaya overhead pabrik semivariabel, misalnya biaya listrik pabrik dan biaya telepon pabrik, dan biaya overhead pabrik bertahap, misalnya gaji supervisor dan gaji inspektur.

3.      Perbedaan Biaya Overhead Pabrik Normal dengan Sesungguhnya
Biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk dapat berupa biaya overhead pabrik sesungguhnya atau biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka. Jika biaya overhead pabrik dibebankan sebesar biaya sesungguhnya maka harga pokok produk baru dapat ditentukan setelah semua biaya overhead pabrik sesungguhnya telah terkumpul. Padahal penentuan harga pokok produk diperlukan pada saat barang selesai diproses. Untuk itu, perlu ditetapkan biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka atas dasar kapasitas normal.
4.      Penaksiran Tingkat Produksi
Biaya overhead pabrik yang ditentukan di muka dihitung dengan penyebut/pembagi kapasitas produksi. Tingkat kapasitas produksi yang dapat digunakan sebagai penyebut adalah:
1)      Kapasitas produksi teoritis atau ideal
Kapasitas produksi teoritis atau ideal adalah kapasitas produksi maksimum yang dapat diproduksi oleh perusahaan tanpa hambatan intern maupun hambatan ekstern. Hambatan intern misalnya setup time, reparasi dan pemeliharaan mesin, libur nasional, dan libur mingguan. Hambatan ekstern misalnya kekosongan pesanan penjualan. Pada tingkat kapasitas ini, pabrik dianggap bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun tanpa henti sehingga tercapai kapasitas produksi 100%.
2)      Kapasitas produksi praktis atau realistis
Kapasitas produksi praktis atau realistis adalah kapasitas kapasitas produksi maksimum yang dapat dicapai oleh perusahaan dengan mempertimbangkan hambatan intern. Pada kapasitas ini dianggap hambatan-hambatan esktern tidak ada.
3)      Kapasitas produksi normal atau jangka panjang
Kapasitas produksi normal atau jangka panjang adalah kapasitas produksi yang didasarkan pada kapasitas produksi praktis dengan mempertimbangkan permintaan terhadap produk. Pada kapasitas ini sudah dipertimbangkan baik hambatan intern maupun hambatan ekstern jangka panjang, umumnya dalam jangka waktu 5 tahun,
4)      Kapasitas produksi yang diharapkan atau jangka pendek.
Kapasitas produksi yang diharapkan atau jangka pendek adalah kapasitas produksi yang didasarkan atas taksiran produksi periode yang akan datang. Dalam satu periode, kapasitas produksi yang diharapkan dapat lebih besar, sama, atau lebih kecil dari pada kapasitas produksi normal. Dalam jangka panjang, total kapasitas produksi yang diharapkan harus sama dengan total kapasitas produksi normal.
5.      Penaksiran Biaya Overhead Pabrik
Dalam menaksir biaya overhead pabrik, harus ditaksir total biaya overhead pabrik selama periode tertentu. Taksiran total biaya overhead pabrik ini biasanya ditetapkan pada tingkat kapasitas produksi normal. Taksiran total biaya overhead pabrik dirinci ke dalam biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap.
Refrensi:
id.shvoong.com/business-management/accounting/1940603-biaya-overhead-pabrik/
Nafarin, M. Penganggaran Perusahaan. Edisi ke-3. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.2007
http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/321-pengertian-biaya-overhead-pabrik.pdf